Text
Analisis efektivitas penggunaan kanamisin dan capreomisin terhadap pengobatan TB MDR : studi dilakukan pada pasien TB MDR di GTBT RSU Dr. Soetomo Surabaya
TB MDR adalah pengobatan lini ke-2 yang mengalami resisten atau kekebalan terhadap obat anti TB (OAT) dengan beberapa faktor yaitu faktor mikroorganisme atau kuman, faktor pengobatan yang tidak adekuat, pelaksanaan program penanggulangan yang tidak baik dan cara pemberian maupun lama pengobatan dapat juga memicu terjadinya resistensi kuman (Depkes, 2009). Regimen terapi Second-line MDR TB menurut WHO dan depkes RI saat ini adalah kombinasi Kanamisin – Etambutol - Ethonamid-Levofloxacin – Pyrazinamid - Cycloserin (Km-E-Etho-Levo-Z-Cs). Sedangkan regimen lain (alternatif Second-line) yang direkomendasikan WHO dan depkes RI adalah Capreomisin – Etambutol – Ethonamid – Levofloxacin – Pyrazinamid - Cycloserine (Cm-E-Etho-Levo-Z-Cs).rnDari hasil penelitian didapatkan 26 pasien TB MDR yang memenuhi kriteria inklusi, terbagi dalam dua kelompok terapi yaitu pasien kelompok terapi Km-E-Etho-Levo-Z-Cs (n=13) dan pasien kelompok terapi Cm-E-Etho-Levo-Z-Cs (n=13). Parameter terapi pada penelitian ini yang menentukan keberhasilan terapi TB MDR adalah BTA dan Foto thorax (WHO, 2008). Efektifitas terapi dinyatakan dengan tercapainya BTA dan Foto Thorax (100%) tidak ada pertumbuhan Mycrobacterium Tuberculosis. Prevalensi efek samping obat pada penelitian ini untuk ESO Nyeri Kaku sendi ,gangguan ginjal dan telinga berdenging terbanyak pada kelompok terapi Km – E – Etho – Levo – Z – Cs yaitu 38,46% dibandingkan dengan kelompok terapi Cm – E – Etho – Levo – Z – Cs Nyeri Kaku sendi (30,77%) ,gangguan ginjal dan telinga berdenging (15,38%). Berdasarkan uji statistik dengan membandingkan antar kelompok terapi Km – E – Etho – Levo – Z – Cs dan Cm – E – Etho – Levo – Z – Cs pada pre terapi (p=0,715) dan post terapi (p=0,774) diperoleh tidak ada perbedaan yang bermakna pada BTA (Independent t-test p > 0,05). Sedangkan membandingkan Foto thorax pre (p=0,536) dan post (p=0,720) antar kelompok terapi Km – E – Etho – Levo – Z – Cs dan Cm – E – Etho – Levo – Z – Cs diperoleh hasil tidak ada perbedaan yang bermakna pada Foto thorax (wilcoxon Mann-Whitney, p > 0,05). Jadi hasil analisis statistik ini menunjukkan bahwa ke dua kelompok terapi ini Km – E – Etho – Levo – Z – Cs dan Cm – E – Etho – Levo – Z – Cs selama terapi 6 bulan mempunyai efektifitas yang sama dalam BTA dan Foto thorax . hasil analisis statistik tidak ada perbedaan yang bermakna pada BTA dan Foto thorax pada 2 kelompok terapi tersebut. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut efektivitas terapi Kanamisin dan Capreomisin dengan menggunakan sampel yang jumlahnya lebih banyak ( > 24 sampel) dan waktu penelitian yang lebih panjang yaitu ≥ 1 tahun untuk mengetahui lebih lanjut efektivitas terapi TB MDR dan mengetahui prevalensi ESO dari terapi tersebut. Sehingga klinisi dapat mengetahui keberhasilan terapi TB MDR dengan adanya peningkatan outcome terapi.rn
Tidak tersedia versi lain